Informasi Program pembangunan keluarga, kependudukan & keluarga berencana (bangga kencana) di provinsi sulawesi tengah
Upaya lebih membumikan program pembangunan keluarga, kependudukan & keluarga berencana (bangga kencana) di provinsi sulawesi tengah
Hati-Hati Bu Wamen, Ada yang Jebol
Berbalut kemeja putih sederhana berlengan pendek dan bando putih yang menghiasi rambut panjangnya, langkah Wakil Menteri (Wamen) Kependudukan dan Pembangunan Keluarga / Wakil Kepala BKKBN Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka tak ragu menembus pelosok perkampungan di pesisir Labuan. Kunjungannya kali ini sebuah misi kemanusiaan untuk menyentuh langsung denyut nadi Keluarga Risiko Stunting (KRS) penerima bantuan jamban sehat dari program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING), Senin 28 September 2026
Langkah pertama berlabuh di Desa Labuan Salumbone. Di sana, hidup Ibu Dian Puspita (25) yang harus berjuang keras merawat balitanya yang berusia 14 bulan. Ia menetap di rumah kayu berlantaikan papan. Di tengah impitan ekonomi, sang suami harus merantau jauh ke Manado demi upah buruh harian yang tak menentu, menyisakan uang belanja sekitar Rp800.000 sebulan untuk bertahan hidup. Ironisnya, bertahun-tahun keluarga kecil ini tak memiliki fasilitas sanitasi pribadi, memaksa mereka harus menumpang ke jamban umum hanya untuk membuang hajat.
Saat Wamen melangkah masuk meninjau ke dalam rumah, Ibu Dian dengan sigap memperingatkan. "Awas Bu, ada yang jebol!" serunya, menunjuk salah satu sisi lantai papan yang sudah berlubang dan rapuh. Wamen melangkah hati-hati, merekam dalam benak betapa rentannya kondisi hunian keluarga tersebut.
Menuju tanah kosong di samping rumah lokasi di mana jamban baru akan dibangun Wamen berdiskusi serius dengan Penyuluh KB Kecamatan Labuan, Beatrix, beserta jajaran kader setempat dan aparat pemerintah kecamatan hingga desa. Wamen memberikan instruksi tegas namun keibuan, meminta agar para kader proaktif memfasilitasi keluarga jika suatu saat terdapat rujukan penanganan gizi dari Puskesmas.
Meski diliputi realita yang getir, momen hangat tetap tercipta. Sang balita yang awalnya bersembunyi malu-malu perlahan luluh oleh sapaan lembut Wamen. Tak butuh waktu lama, keengganannya sirna. Balita mungil itu dengan riang membalas tos tangan Wamen, bahkan dengan polosnya memamerkan deretan giginya ke arah kamera saat Wamen memintanya.
langkah kepedulian Wamen belum terhenti, Rombongan bergegas melanjutkan perjalanan menuju titik sasaran berikutnya di Desa Labuan Induk masih di Kecamatan Tanantovea. Untuk mencapai rumah keluarga kedua ini, Wamen harus turun dari kendaraan dan berjalan menyusuri jalan setapak menyerupai lorong yang dipagari pepohonan di sisi kiri dan kanannya. Kali ini, Wamen disambut di depan sebuah rumah mungil bertembok beton oleh keluarga Ibu Fildayanti (26). Formasi keluarga ini lengkap, sang ayah yang berprofesi sebagai buruh harian las turut hadir, didampingi dua anak laki-lakinya yang masih kecil, serta bayi perempuannya yang baru berusia 3 bulan.
Di balik dinding beton mungil itu, realita ekonomi tak kalah mencekik. Dengan penghasilan sang ayah yang hanya berkisar Rp500.000 per bulan, boro-boro membangun kloset, untuk makan sehari-hari pun mereka harus berhitung cermat. Ketiadaan jamban membuat keluarga ini terpaksa selalu berjalan ke rumah orang tua mereka setiap kali panggilan alam tiba.
Sembari berdiri di ambang pintu rumah, Wamen menyempatkan diri berbincang hangat dengan Ibu Fildayanti. Dalam obrolan santai namun sarat makna itu, Wamen menitipkan pesan penting tentang esensi kesehatan keluarga. "Kalau bicara stunting bukan cuma nutrisi, tapi ada air bersih. Adanya jamban itu juga perlu," pesan Wamen lembut kepada sang ibu, mengingatkan bahwa sanitasi adalah benteng pertahanan bagi masa depan anak.
Setelahnya, Wamen tak segan berjongkok, mensejajarkan tubuhnya dengan tinggi kedua abang sang bayi, satu berusia 6 tahun, satunya lagi 3 tahun. Menguji kesadaran lingkungan sedari dini, Wamen melempar tanya, "Kalau buang sampah di mana, hayo?"
"Di tong sampah!" jawab salah satu anak dengan lantang dan spontan. Senyum Wamen langsung merekah, menyambut jawaban pintar itu dengan sebuah tos penuh kebanggaan.
Tiba-tiba, tingkah lucu terjadi. Sang adik yang belum sepenuhnya paham, iseng memukul kakaknya. Sang kakak yang tak terima langsung menasihati adiknya dengan logat Kaili yang kental, "Jangan ba pukul!"
Mendengar itu, tawa Wamen pecah. Dengan luwes, ia menirukan logat lokal tersebut. "Nah iya, jangan ba pukul iya pintar, Zidan ajari Wildan ya jangan ba pukul ya.," pesannya lembut dengan senyum yang tak lepas dari wajah.
Usai bercengkerama, Wamen menyempatkan diri melangkah menembus bagian dalam rumah mungil yang tampak gelap gulita karena minimnya pencahayaan. Ia terus berjalan hingga mencapai dapur di bagian belakang, lalu keluar ke area samping untuk mengawasi langsung lahan sempit tempat bilik jamban keluarga itu akan didirikan.
Didampingi perwakilan Bank Rakyat Indonesia (BRI) yang turun tangan langsung sebagai 'Orang Tua Asuh' dalam program ini, kunjungan tersebut menjadi bukti bahwa kolaborasi kepedulian bukan sekadar angka di atas kertas melainkan harapan untuk mengentaskan stunting, agar generasi penerus Labuan tumbuh sehat tanpa ancaman penyakit. Lannyolla
Penulis: Lanny Yolistina Lameanda,
Editor: Sakkirang, Budiman Jaya
Foto: Kemendukbangga/BKKBN Perwakilan BKKBN Sulteng
Tanggal Rilis: 46295
Waktu: Pk. Senin, 28 September 2026 WITA
PPID Kemendukbangga/BKKBN Perwakilan BKKBN Sulawesi Tengah
ppidkemendukbanggasulteng@gmail.com
Jl. Prof. Moh. Yamin No. 37
Tatura Utara, Kec. Palu Sel., Kota Palu, Sulawesi Tengah 94111
Instagram: kemendukbangga.bkkbnsulteng
Facebook: BKKBNSulteng
Twitter/X: @kemendukbangga.bkkbnsulteng
TikTok: kemendukbanggasulteng
YouTube: kemendukbangga.bkkbnsulteng
www.sulteng.kemendukbangga.go.id
Tentang Kemendukbangga/BKKBN
Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (Kemendukbangga/BKKBN) adalah lembaga yang mendapat tugas untuk mengendalikan jumlah penduduk melalui penyelenggaraan program kependudukan dan Keluarga Berencana, serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia melalui pembangunan keluarga berdasarkan Undang-Undang Nomor 52 tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga;
Berlandaskan juga pada Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 87 Tahun 2014 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, Keluarga Berencana, dan Sistem Informasi Keluarga, Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 180 Tahun 2024 tentang Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga: Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 181 Tahun 2024 tentang Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN).


